Jumat, 28 September 2012

Street Art (Sejarah & Proses Masuknya Ke Indonesia)


            Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.
Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.
Kegiatan grafiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar.
Graffiti Jaman Modern

Rabu, 26 September 2012

LAGI !! Dunia Pendidikan Berduka Atas Kepergian Beberapa Siswa Akubat TAWURAN

DENNY JANUAR (SMK YAYASAN KARYA 66)

 Paman dari Denny Januar (17) pelajar SMK Yayasan karya 66 (Yake) yang menjadi korban tewas akibat tawuran di daerah Tebet, mengatakan korban merupakan anak baik, yang aktif berkegiatan positif di lingkungan tempat tinggal. 

"Dia anaknya baik, kalem dan setahu saya belum pernah `berantem`. Dia ikut kegiatan marawis dan pengajian di lingkungan rumah," ujar paman korban Tito Fieryadi, dijumpai di Rumah Sakit RSCM, Jakarta, Rabu.

Menurut Tito, Denny merupakan anak tunggal. Denny tinggal bersama ibu dan paman-pamannya yang lain di rumah kawasan Kampung Bali Matraman, Gang Rusa IV, Kelurahan Manggarai Selatan, Kecamatan Tebet.

Tito mengatakan Denny biasanya langsung pulang ke rumah setelah sekolah. Dia mempertanyakan keberadaan Denny di Jalan Sahardjo, Tebet, yang merupakan lokasi tawuran, sebab di sana bukan merupakan arah pulang setelah dari sekolah. 

Kamis, 20 September 2012

Bekasi Juga Terkena Dampak Dari Kenakalan Siswa (TAWURAN) Ibukota JAKARTA

KIAN hari, tawuran pelajar bukannya semakin berkurang, malah makin beranak pinak dengan eskalasi dan bentuk yang kian mengerikan. Bahkan, dalam tiga pekan terakhir, seiring dengan selesainya ujian nasional SLTA dan SLTP, berita tawuran hampir setiap hari menghiasi media massa. 

Insiden terakhir terjadi Kamis (3/5) sekitar pukul 18.30 WIB di Jalan Ampera, Bekasi Timur. Tawuran pelajar dua SMK di Jakarta Timur itu mengakibatkan seorang pelajar tewas dan dua lainnya luka serius karena dibacok. Para pelajar itu baku hantam menggunakan celurit, parang, dan sabuk bergerigi besi di wilayah Bekasi. 

Peristiwa itu menambah panjang daftar korban sia-sia akibat tawuran pelajar. Data Komnas Perlindungan Anak menunjukkan jumlah tawuran pelajar pada 2011 mencapai 339 kasus dan memakan korban tewas 82 orang. Jumlah itu meningkat 165% dari 128 kasus pada tahun sebelumnya.

Radiasi HP Dan Beberapa Cara Menagkalnya


Di zaman yang canggih dan penuh dengan teknologi ini, hampir setiap orang memiliki telepon seluler alias ponsel atau HP, dan hingga kini penggunaan HP terus meningkat pesat. Pada masyarakat modern, HP sudah menjadi sebuah kebutuhan primer, ibarat makanan dan minuman. Namun tak banyak yang mengerti, ternyata penggunaan HP itu sendiri menimbulkan radiasi yang cukup berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan.

Dr. Eka Putra Setiawan, Sp.T.H.T dari bagian Divisi Otologi RS Sanglah mengatakan telepon gengam diciptakan untuk memudahkan manusia berkomunikasi. Namun, kata lelaki kelahiran 15 Juni 1961 ini, banyak efek samping dari penggunaan handphone yang salah. Hal ini berkaitan dengan volume suara dan jarak dengar.

"Semakin HP ditempelkan ke telinga, maka semakin melekat mengenai liang telinga. Efeknya semakin besar yang menyebabkan terjadi peningkatan bunyi atau resonansi, " ujar spesialis T.H.T. tamatan UGM Yogyakarta ini. Semakin lama menggunakan HP, kata Dokter Eka, maka semakin lama bunyi bising yang menyebabkan kelelahan otot. "Menggunakan HP hendaknya bergantian pada telinga kanan dan kiri. Sama halnya dengan olahraga berjalan atau lari. Semakin jauh akan terasa capek dan otot pegal. Ada masanya untuk istirahat bagi otot pendengaran," ujarnya.

Selain itu, lanjut Dokter Eka, perlu diwaspadai efek samping gelombang elektromagnetik yang dipancarkan HP. Radiasi telepon gengam berakibat buruk terhadap tubuh manusia. Ia menyebutkan radiasi HP memancarkan 215 kali perdetik masuk ke sel-sel otak mengenai DNA dalam sel. Tiap HP memancarkan 900 Mhz-1800 Mhz. Untungnya, kata Dokter Eka ini, manusia memiliki sawar darah otak yang melindungi paparan radiasi ini. Jika memungkinkan sebaiknya gunakan peralatan hands-free untuk mendengarkan suara lewat HP. Anak-anak usia dibawah 8 tahun sangat rentan terhadap pancaran radiasi ini, sehingga sangat disarankan belum waktunya menggunakan HP.