Kamis, 20 September 2012

Bekasi Juga Terkena Dampak Dari Kenakalan Siswa (TAWURAN) Ibukota JAKARTA

KIAN hari, tawuran pelajar bukannya semakin berkurang, malah makin beranak pinak dengan eskalasi dan bentuk yang kian mengerikan. Bahkan, dalam tiga pekan terakhir, seiring dengan selesainya ujian nasional SLTA dan SLTP, berita tawuran hampir setiap hari menghiasi media massa. 

Insiden terakhir terjadi Kamis (3/5) sekitar pukul 18.30 WIB di Jalan Ampera, Bekasi Timur. Tawuran pelajar dua SMK di Jakarta Timur itu mengakibatkan seorang pelajar tewas dan dua lainnya luka serius karena dibacok. Para pelajar itu baku hantam menggunakan celurit, parang, dan sabuk bergerigi besi di wilayah Bekasi. 

Peristiwa itu menambah panjang daftar korban sia-sia akibat tawuran pelajar. Data Komnas Perlindungan Anak menunjukkan jumlah tawuran pelajar pada 2011 mencapai 339 kasus dan memakan korban tewas 82 orang. Jumlah itu meningkat 165% dari 128 kasus pada tahun sebelumnya.

<!--more-->
Penyebab pelajar bertawuran sering kali hanya karena masalah sepele, seperti berpapasan di angkutan umum, pertandingan olahraga, atau saling ejek. Bahkan, akhir tahun lalu, ada tawuran yang dipicu saling ejek diFacebook, kemudian menyebabkan nyawa seorang pelajar melayang. 

Hilangnya nyawa pelajar dan luka serius yang mereka derita menunjukkan bahwa tawuran pelajar tidak bisa lagi dianggap enteng. Peristiwa itu tidak lagi memadai untuk sekadar dianggap kenakalan remaja. 

Tawuran pelajar sudah berubah menjadi ajang balas dendam berwujud kriminal. Mereka menyiapkan amunisi senjata tajam sejak awal. 

Tentu saja, senjata itu bukan dimaksudkan sebagai aksesori. Senjata-senjata mematikan itu terbukti digunakan untuk menghabisi orang lain. Tidak mengherankan jika puluhan nyawa mati sia-sia. 

Jika melihat asal-muasal tawuran yang sekadar menuntaskan dendam atas hal-hal sepele, menunjukkan bahwa sumbu perdamaian sudah teramat pendek. Itu sekaligus menegaskan dugaan bahwa kekerasan memang telah diternakkan sehingga kian akrab dengan anak bangsa. 

Jelaslah, pelajar kita, para tunas bangsa, memiliki referensi yang cukup untuk berlaku brutal. Mereka menyaksikan tindakan kekerasan--entah atas nama agama, suku, atau kelompok--sering kali dibiarkan tanpa tindakan tegas dari aparat negara. 

Hukum sangat lembek terhadap pelaku kekerasan, sebaliknya malah sering mengkriminalkan korban. Tidak aneh jika kemudian pelajar meniru itu dengan harapan mereka juga tidak bakal dikenai sanksi. 

Minimnya keteladanan para elite tentang perilaku hidup berdampingan secara damai, tentang satunya kata dengan perbuatan, kian memperparah keadaan. Padahal, jika negara serius memberantas tawuran pelajar dan memberi teladan yang otentik, beragam cara bisa dilakukan. 

Harus ada tindakan tegas yang membuat jera, tanpa mengorbankan spirit mendidik. Selama negara absen menindak perilaku kekerasan, selama itu pula tawuran pelajar terus mendapatkan ruang. Kita sangat tidak berharap tunas-tunas muda bangsa di satu pihak menjadi pembunuh, dan di lain pihak menjadi korban yang berguguran sebelum berkembang.

Jakarta Satu pelajar tewas dan 2 pelajar lainnya terluka kena bacokan akibat tawuran yang terjadi di Kota Bekasi, Jabar, Pukul 19.00 WIB. Diketahui, korban tewas dan luka tersebut ialah siswa SMU di Jakarta Timur.

"Korban tewas atas nama Bayu Dwi (16), luka bacok bagian bahu, tangan kanan, dan kepala," kata Wakapolres Bekasi Kota, AKBP Lukas Akbar, dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Kamis (3/5/2012).

Sedangkan untuk korban luka ialah Muhadji (16) warga Cilincing, Jakarta Utara, dan Ahmad Riwaidi (16) warga Rawamangun, Jakarta Timur. 

"Muhadji kena bacok bagian siku tangan kanan, sedangkan Ahmad kena luka bacok bagian punggung," jelasnya.

Menurut Lukas, tawuran tersebut terjadi di Jalan Ir Juanda, Bekasi Timur, sekitar pukul 19.00 WIB. Ia menambahkan, para pelajar asal Jakarta tersebut diduga ke Bekasi untuk mencari musuh tawuran.

"Mereka memang mau cari musuh di sini, diduga lawan tawurannya anak SMA asal Jakarta juga," paparnya.

Polisi masih meminta keterangan dari saksi untuk mengetahui kasus tersebut lebih dalam. Pihaknya juga sudah turun ke lapangan untuk mencari pelaku.

"Kita belum tahu SMA asal mana. Masih kita periksa saksi-saksi di lokasi kejadian," ungkap Lukas.


Jakarta (tvOne)
Pelaku utama pembacokan pada tawuran pelajar antara SMA Kartika dan SMA 87 yang menewaskan seorang pelajar, Jeremy Hasibuan, berhasil dibekuk Kepolisian Sektor Pesanggrahan. Pelaku yang bernama AM alias Bogo itu merupakan siswa SMA 87, Jakarta Selatan.
"Ia ditangkap di rumahnya di daerah Rempoa," kata Kepala Unit Reserse dan Kriminal Kepolisian Sektor Pesanggrahan, AKP Nurdin, Jakarta. Selain menangkap Bogo, pihak kepolisian juga menangkap enam siswa lain yang terlibat dalam kejadian tersebut.

Tawuran pelajar antar-SMA ini terjadi pada Senin, 6 Agustus kemarin dan menewaskan seorang korban, Jeremy Hasibuan. Perkelahian ini terjadi pada jam 15.30 dan melibatkan pelajar SMA 87 dan SMA Kartika. Jeremy adalah siswa SMA Kartika. Tawuran terjadi di Jalan Taman Barat RT 15/08 Bintaro. Jeremy sendiri tewas karena mendapat luka bacok di kepala. 

Dua pelajar SMAN 3 Setiabudi, Guntur (17) dan Harza Saparta (17), kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Keduanya kena bacok dalam tawuran pelajar di Jalan Mataram, Kebayoran Baru, Kamis (19/4/2012) malam.
Aparat Polsek Metro Kebayoran Baru mendapat laporan dari aparat Biro Operasi Polda Metro Jaya pada pukul 20.00 WIB bahwa terjadi tawuran pelajar di Jalan Mataram. Dilaporkan juga, tawuran itu diduga memakan korban luka berat.
Polisi yang datang ke lokasi tidak melihat lagi ada tawuran tersebut. Namun, warga yang sempat melihat saat tawuran antara pelajar itu menyatakan ada korban luka dari tawuran itu yang dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Anggota Polsek segera melakukan pengecekan di rumah sakit tersebut. Ternyata benar, ada dua pelajar yang tengah mendapat pertolongan medis di rumah sakit, yang menderita luka bacok dalam tawuran.
Namun, polisi belum jelas apakah kedua korban itu terlibat dalam tawuran atau tidak, dan pelajar-pelajar dari sekolah mana yang tawuran di Jalan Mataram.
Polisi belum memeriksa secara detail kedua korban yang saat itu masih menjalani perawatan. Yang pasti, keduanya pelajar SMAN 3 Setiabudi atas nama Guntur, warga Cakung, Jakarta Timur, dan Harzan Saputra, warga Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Guntur terkena bacok pada bagian punggung dan Harzan mengalami luka bacok pada bagian kepala.

Pelajar sudah seharusnya menuntut ilmu dengna belajar, ingat tujuan utama kalian sekolah ! yaitu menuntut ilmu setinggi langit, bahagiakan orang tua dan raih cita-cita. Bukan untuk meninggikan emosi dan sifat egois dalam diri yang akhirnya anarkis membunuh nurani kalian.
Jika mengingat cita-cita dan harapan bangsa terhadap pelajar yang menginginkan pelajar Indonesia menjadi penerus dan ujung tombak pergerakan dalam kemajuan dan ketentraman bangsa, namun harapan itu sangat kontras dan berbanding terbalik dengan realita yang ada saat ini. Masih heboh berita di pelbagai media tentang tauran pelajar SMAN 6 Jakarta, apakah seperti itu jiwa para pelajar Indonesia dewasa ini?
Tawuran pelajar tidak terjadi satu atau dua kali di Indonesia, melainkan sudah terjadi puluhan bahkan ratusan kali. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan yang teramat sering terdengar beritanya tentang tawuran pelajar disana. contohnya saja di Jakarta, sudah terjadi 157 kasus pada tahun 1992, mengalami peningkatan Tahun 1994 menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas (Bimmas Polri Metro Jaya), Pada 2010, tawuran pelajar tercatat berjumlah 28 kasus, sedangkan pada periode Januari - Agustus 2011, tawuran pelajar di Jakarta sudah tercatat sebanyak 36 kasus, dengan wilayah paling banyak di Jakarta Pusat (tempo). Dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan intensitas tawuran pelajar, apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia? dimana guru dan kepala sekolah serta pemerintah ?
Perkelahian dari zaman batu sampai zaman teknologi canggih-pun tetap saja merugikan, fasilitas umum hancur, mobil dan sepeda motor milik orang lain juga jadi korban aksi anarksi ini, kegiatan belajar mengajar terhenti, dan yang sangat mengkhawatirkan adalah hilangnya rasa persaudaraan, nilai-nilai budi pekerti luhur antar sesama pelajar. padahal kekerasan sama sekali tidak ada untungnya, melainkan sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Faktor yang menjadikan seringnya tawuran pelajar ini bukan hanya dilihat dari satu sisi, melainkan banyak hal yang harus diperhatikan dalam menentukan faktor tersebut, diantaranya yaitu faktor psikologis, budaya, sosiologis dan rambu-rambu dalam sekolah.
Pelajar sudah masuk dalam kategori remaja, dan di kategori remaja inilah psikologi mereka sangat melonjak tajam, kenakalan remaja terlalu sering diperbincangkan, memang seperti itu. emosi yang sering meledak-ledak, rasa ingin hidup bebas, dan lain-lain. faktor psikologi inilah yang menjadi faktor utama terjadinya perkelahian atau tawuran pelajar. ditambah lagi faktor budaya di kalangan pelajar, hedonisme sudah menjadi budaya anak muda dan remaja, gaya ingin menikmati hidup dengan berfoya-foya dan melakukan hal yang melanggar hukum dan agama sekalipun demi terpuaskannya nafsu mereka. selanjutnya adalah pembentukan komunitas, kelompok atau geng untuk memperkuat pencitraan dan proteksi diri.
faktor lainnya seperti faktor internal, keluarga, ekonomi dan faktor lingkungan juga andil dalam mempengaruhi diri pelajar. pelajar yang tidak bisa menahan kesabaran mereka karena selalu diolok dari keluarga si miskin, akhirnya mereka berusaha mencari sesuatu yang bisa menjadikan tameng atau tempat berlindung, disinilah geng atau komunitas bergerak, berusaha melindungi anggota geng mereka. lingkungan tempat tinggal mereka juga mempengaruhi kepribadian, pelajar yang hidup di lingkungan agamis, cenderung jauh dari tawuran pelajar, sedangkan pelajar yang hidup di lingkungan texas atau lingkungan preman, maka kekerasan adalah hal biasa untuk mereka.
satu lagi yaitu faktor sekolah, sekolah jangan dijadikan sebagai tempat pencekokan teori-teori, untuk menjadikan pelajar bisa meraih jabatan di pekerjaannya kelak, demi eksistensi dan pencitraan sekolah tersebut, melainkan menjadi tempat belajar yang kondusif dengan menekankan pada proses, bukan pada hasil. karena, kemampuan pelajar untuk menyerap ilmu itu relatif atau berbeda tiap individu.sekolah juga harus memiliki tata tertib yang tegas, tidak loyo. karena tata tertib atau peraturan inilah yang akan membuat pelajar disiplin, jangan lupa pula tingkatkan pendidikan akhlak mereka karena tanpa itu, semua sia-sia.
Kalian adalah pelajar Indonesia, sudah seharusnya berusaha untuk menggapai cita-cita, berusaha membahagiakan orang tua yang sudah banting tulang membiayai pendidikan kalian. jangan sampai image Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia melekat pada diri kalian, pelajar Indonesia harus mampu membuktikan bahwa kalian bisa, singkirkan sifat egois dan emosi tinggi, demi tercapainya cita-cita


Tidak ada komentar:

Posting Komentar