Jumat, 22 Juni 2012

SEJARAH BANG BEN'S (Benyamin Sueb)

Sejarah: SANG LEGENDA BENYAMIN.S

Musik Benyamin merupakan rekaman keadaan sehari-hari orang Betawi dengan setting gang-gang kecil di metropolitan, kampung-kampung lama yang rapat penduduk. Ia berbicara tentang dua tetangga yang berselisih, pertengkaran tukang kredit dan seorang ibu, bahkan tentang kultilanak yang menampakkan diri. Mulanya dicap kampungan, tapi sekarang, 12 tahun setelah kematiannya, anak-anak muda, kalangan yang tak pernah bersentuhan langsung dengannya, memajang wajahnya di dada baju kaus mereka.
1.
ENTAH sudah berapa ribu kali si Badut mati. Tapi lagu ini bercerita tentang suatu fragmen di hari Jumat Kliwon, manakala si penyanyi siap-siap memandikan burung kesayangannya. Si Badut, perkutut itu, burung peninggalan Majapahit, berhak mendapat perlakuan istimewa –kita mendengar suara bariton si penyanyi yang menyusun argumen. Tapi istrinya ogah mengerti, seraya tak melihat jalan lain buat si Badut kecuali dua: dibiarkan bebas atau disembelih. Hidup sudah melelahkan, dan tanpa merawat burung sekalipun seorang ibu rumah tangga harus main akrobat mengurus keluarga.



Perkutut lagu tahun 70-an, dan kita tahu, dibawakan oleh duet Benyamin S.-Ida Royani dalam irama gambang kromong modern yang mengajak kita membayangkan sebuah keluarga Betawi. Ya, keluarga di sebuah rumah sederhana: ada sang istri sedang berjuang di dapur, ada suaminya lagi mematut-matut burung. Musik bertempo sedang. Di antara iringan drum ketimbang gendang, bas elektrik ketimbang gong, kita mendengar Benyamin menyeret lagu itu perlahan keluar konteks, lantas mendaratkankannya persis di tengah-tengah tafsir yang erotis. Sangat asosiatif, ia mengalunkan lirik yang intinya kira-kira mengingatkan: ada “burung” lain di luar perkutut itu.

Di penghujung lagu, si Badut kembali ke sosok semula, seekor perkutut. Kita tahu Benyamin tak akan membiarkan burungnya terbang bebas, apalagi disembelih. Tapi nasib si Badut tak bagus: ia mati diterkam kucing. Tragis, namun suara Benyamin terdengar enteng, mungkin sedikit geli, menyaksikan usahanya yang begitu gigih mempertahankan makhluk kesayangannya gagal oleh kejadian yang tak pernah dibayangkan.

Perkutut jenis gambang kromong yang biasa dinyanyikan Benyamin – tokoh yang duabelas tahun yang lalu berpulang, tapi hingga sekarang tetap “hidup” bersama film-film dan album-album lagunya. Sebenarnya Benyamin S., putra kelahiran Kampung Bugis, Kemayoran, bukan orang pertama yang membawakan gambang kromong. Ada Rachmat Kartolo dan Franz Daromez, dua penyanyi bersuara hebat, bertampang cakep, yang lebih dulu hadir di dunia itu tahun 1960-an. Tapi, dari perkembangan waktu, tersingkaplah bahwa wajah dan penampilan fisik ternyata bukan modal utama keberhasilan di dunia itu. Dan Benyamin membuktikan bahwa humor adonan inti musik itu. Segalanya tidak bisa diambil terlalu serius.

Humor Benyamin humor Betawi. Dia bisa berbentuk slapstick yang biasa kita dapatkan di sepanjang perjalanan film komedi –dari film bisu Charlie Chaplin dulu hingga Dono Warkop. Prinsipnya: pokoknya tak ada yang lebih lucu dari kesialan orang. Baik orang lain maupun diri sendiri. Dan perbedaan antara Chaplin, Dono Warkop dan Benyamin mungkin terletak pada kemampuan Benyamin mengungkap itu sonder bahasa gambar sama sekali. Dalam album-albumnya, ia mengartikulasikan slapstick melalui bahasa yang lebih terbatas, bahasa musikal, bahasa lisan. Tentu, bahasa lisan yang sanggup melukiskan suasana dengan akurat.

Lagu Ondel-ondel adalah salah satu puncak humor jenis ini. Ondel-ondel jenis gambang kromong yang mempunyai kekayaan ritme cukup melimpah. Dari liriknya, kita pun bisa menangkap setting kejadiannya yang unik: di sebuah arak-arakan pengantin sunat, ketika ondel-ondel jadi pemandangan yang menghibur. Tiga serangkai bapak-ibu-anak ondel-ondel pandai ngibing mengikuti tepukan gendang yang hot. Namun, panorama ini sekonyong-konyong menjadi tawar jika dibandingkan dengan kejadian yang lebih seru selanjutnya. Seorang penonton iseng, menaruh puntung rokok di atas kepala anak ondel-ondel, dan akibatnya spektakuler: sebuah hiruk-pikuk. Si anak jejingkrakan, api dikepalanya mulai berkobar, dan para pengiring pengantin sunat panik bukan kepalang. Dan puncaknya: seember air comberan memadamkan kepala yang berasap itu. Tapi penonton bukannya merasa lega. Mereka menyambut adegan itu bagian dari tontonan; mereka bersorak-sorai, horeeee....

Humor Benyamin humor Betawi. Dia bisa berupa slapstick atau humor seks, sesuatu yang selalu disembunyikan, ditabukan, tapi menimbulklan tawa jika disentuh. Perkutut mengantung keduanya. Namun, diluar itu, gambang kromong Benyamin merupakan rekaman keadaan sehari-hari orang Betawi dengan setting gang-gang kecil di metropolitan, kampung-kampung lama yang rapat penduduk. Gara-gara Anak bicara tentang dua tetangga berselisih setelah anak mereka berantem. Benyamin tangkas menangkap paradoks dari sebuah ironi: sementara kepala dan hati kedua tetangga masih panas, anak mereka sudah bermain bersama. Sedangkan lagu Tukang Kridit merekam pertengkaran tukang kridit dengan seorang ibu. Melalui tukang kridit, Benyamin membaca fenomena orang begitu mudah mengutang, tapi begitu susah membayar cicilan.

2.
BENYAMIN dan gambang kromong, dua sosok yang tak terpisah. Tapi gambang kromong bukan cinta pertama di dalam dunia musik. Gambang kromong adalah sebuah pintu belakang yang meyelamatkan Benyamin dari politik yang menuntut dan melarang. Pada tahun 1965, Koes Bersaudara masuk penjara gara-gara melanggar larangan membawakan lagu-lagu “ngak-ngik-ngok”. Tapi itu tidak membuat Banyamin meninggalkan lagu-lagu seperti Blue Moon, Unchained, Melody dan My Way. Ia memutuskan terjun ke gambang kromong setelah Blue Moon yang dibawakannya dengan apik di sebuah klub malam di Kemayoran dikecam. Dan ia dituntut menyanyikan lagu yang punya identitas Indonesia.

Benyamin tak sepenuhnya meninggalkan musik Barat. Benyamin dipengaruhi James Brown, John Mayall, Led Zeppelin, Deep Purple, bahkan Jethro Tull. Lagu Luntang-lantung yang berkisah tentang seorang pemuda putus-asa mencari kerja. Perutnya keroncongan, jalannya sempoyongan. Tapi ketika melepas penat di dekat sebuah rumah, ia disangka maling jemuran. Permainan bas dan biola dalam lagu Crying yang dibawakan kelompok John Mayall & Bluesbreakers memang hadir dalam Luntang-lantung, tapi dalam tempo yang lebih cepat. Benyamin juga mengikuti garis melodi yang sama. Ya, ia memetik ilham dari John Mayall, tapi kemudian mengembangkan dengan kreativitasnya yang acap mencengangkan.

Lagu Kesurupan mengingatkan kita akan tokoh musik kulit hitam James Brown. Dalam Soul Survivor, James Brown Strory, sebuah narasi tentang perjalanan hidup dan musik “bapak moyang musik soul” ini, ia mengaku dengan suara serak: ada perasaan luka ketika orang berteriak. Memang, suara Brown tidak melodius. Secara umum bisa dikatakan, musiknya hanya permainan irama yang teramat kaya. Teriakannya menyelip diantara ketukan: terkadang mengejutkan seperti tembakan kanon, terkadang hanya menegaskan aksentuasi barisan peniup trombon, trompet, atau saksofon. Dan Benyamin melakukan hal yang sama dalam Kesurupan. Ia nyeletuk di antara dua ketukan, mendengus, berteriak, bahkan mencuri kesempatan buat nyerocos panjang –peluang untuk menembakkan humor.

Kesurupan bergerak dalam irama soul. Lagu itu dialog imajinatif antara Benyamin dan setan yang tiba-tiba numpang di tubuh anaknya. Setan yang tersinggung lantaran pondokannya di pohon asem diusik, diinjak dan ditendang sang anak. Setan bandel itu akhirnya angkat kaki, berjanji tak akan kembali lagi, setelah diusir dengan paksa. Di sepanjang lagu, Benyamin memperlihatkan spontanitasnya. Sementara dari tradisi musik gospel di Amerika ada James Brown yang biasa mendengus dan berteriak spontan, dari tradisi musik Betawi ada seorang Benyamin yang memiliki senggakan yang membuat musik bergelombang, tidak datar, tidak monoton.

Musik Benyamin: gambang kromong, blues, soul, keroncong, dan lain-lain. Dari instrumen yang digunakan, kita tahu gambang kromong punya peran dominan. Musik yang memadukan alat-alat musik Indonesia, Cina, dan perkusi Eropa. Namanya diambil dari dua alat Indonesia: gambang (xylophone) dan kromong (gong kecil). Tapi instrumen musik yang digunakannya meliputi rebab dua senar, suling, gong, kendang, kecrek, saksofon, organ dan gitar Hawaiian.

3.

KALAU pergi ke Kemayoran, di daerah Jiung, pasti lu lihat lalu-lintas yang padat ramai. Metromini 24, motor, mobil pribadi, bajaj, bus patas AC Mayasari Bhakti jurusan Pulogadung-Tanjung Priok melintasi jalan padat di tepi Kali Sentiong yang hitam pekat, mirip cincau. Wilayah ini memang jadi jalan lintasan dari Sunter, Kemayoran, Senen, dan Cempaka Putih.

Persis di depan jalan yang kukuh itu, terletak Jalan H. Ung, sering disingkat Jiung. Ketika sang jalan melintasi Kali Utan Panjang, tampak berderet rumah yang sudah dijadikan tempat usaha, bengkel, warteg (warung tegal). Di sebelah warung nasi ini berdiri rumah kerabat ibu Benyamin yang kabarnya akan dijual. Sekedar info, kebanyakan rumah yang ditempati keluarga besar Benyamin S itu sudah beralih ke tangan pendatang. Kini tempat tinggal mereka sudah masuk gang.

Seorang tukang rokok menunjukkan detail lokasi wakaf Benyamin. Ya, almarhum memberikan tanah wakaf seluas 150 meter persegi itu kepada masyarakat setempat untuk keperluan umum. Konon, Benyamin juga berpesan: kalau anak, cucu, dan keponakan hendak menikah, cukup di tanah wakaf itu saja.

Di atas tanah wakaf kini berdiri taman kanak-kanak Al-Quran (TKA) dan taman pendidikan Al-Quran (TPA) Al-Mawadah. Di depannya tertulis “wakaf tanah almarhum H. Bunyamin Sueb, Jl. H.Ung RT.001/003. Utang Panjang, Kemayoran”. Di tempat ini Benyamin menghabiskan masa kecilnya. Tentu waktu itu belum ada perosotan dan lantai semen.

Tapi kenapa namanya menjadi Bunyamin, bukan Benyamin? “Itu salah. Anak Benyamin sudah protes sama lurah. Namanya kan Benyamin,” ujar Cing Su, kakak ipar Benyamin, istri kakak lelakinya, almarhum Saidi. Cing adalah sebutan masyarakat Betawi untuk bibi. Perempuan yang kelihatan masih energetik di usia yang beranjak 70 tahun itu tidak tahu bahwa nama Benyamin Suaeb itu sesuai dengan akta dan diganti Benyamin ketika ia mulai tenar dengan alasan supaya mudah diucapkan. Rumah Cing Su adalah tempat Benyamin tinggal. “Benyamin pernah tinggal di sini juga sampai anak-anaknya duduk di sekolah dasar,” kata Cing Su. Dulu sekitar daerah itu berdiam sanak saudara; ibu Benyamin yang bernama Aisyah dan ayahnya, Suaeb. Anak-anak mereka Rohani, Muhammad Nur, Otto Suprapto, Rohaya, Munadji, Ruslan, Saidi dan si bungsu Benyamin. Mereka sudah lama wafat. Saidi, kakak yang paling akrab yang juga menciptakan lagu-lagu Benyamin, meninggal enam tahun yang lalu.

Tak ada foto Benyamin yang dipajang di rumah Cing Su. Yang ada malah foto Beim, putra Ben yang menjadi anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah), berdua dengan anak laki-laki Cing Su dan foto anak cucunya. Cing Su mengeluarkan foto Benyamin, Saidi dan dia ketika tahun 70-an, di antaranya perayaan ulangtahun Beib—putra sulung Ben—di tanah wakaf, dimeriahkan oleh Ida Royani, Franz Damorez dan band. Ironisnya, album ini sudah tak punya “baju” –kendati masih dilindungi plastik bening pembungkusnya. Foto itu juga mengabadikan istri Ben, Noni ketika belum bercerai. Beberapa ada yang sudah menjamur kena air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar